When am i die?

mostly, setiap saya mendengar ada berita kematian, saya agak cuek, tapi dalam hati, saya merasa sesuatu yang “tidak dapat dijelaskan” (mostly) bukannya tidak peduli. tapi, saya merasa kematian adalah hal yang wajar. karena yang bernyawa pasti akan mati.

nah, pada suatu saat, saat orang-orang terdekat saya sudah mulai tiada, saya merasa seperti yang namanya kematian udah makin dekat aja.

pernah merasa waktu hari mendung, kita dengar suara hujan mulai terdengar dari tempat kita, dimana tempat kita, air hujan belum turun. makin lama, makin keras bunyi hujan turun ke arah tempat kita. dan kita mulai mencari tempat berteduh.

kira-kira seperti itu, yang saya rasain.kematian udah datang ke tempat orang. saya ga pernah berpikir saya akan mati. tak pernah terfikir, kalo saya mati kaya gimana, ato lagi ngapain. tapi, waktu banyak kisah-kisah orang disekitar saya yang sudah sampai waktunya. saya mulai berfikir. “saya bakalan seperti apa?”

dan saya mulai bertanya, kapan saya mati. kematian udah disekitar saya. setiaphari ada yang “dipanggil”.

serangan jantung, korban kejahatan, kecelakaan, meledak tabung gas, kebakaran, tenggelam, terjadi setiap hari, dan lebih dari 1 kali kejadian. bayangin, sebanyak itu penyebab kematian di sekitar saya, saya merasa. ini bakalan menimpa saya… memang, yang bernyawa pasti akan mati. tapi perasaan kali ini sangat beda.

karena, setelah sekian lama saya sadar, bahwa presentase  saya “kena” sangat besar. entah apa yang saya lakukan saat saya “kena”. pokoknya, yang saya rasain sekarang. kematian sangat terasa dekat.

setiap hari, orang-orang mati, satu per satu “kena”. pertanyaannya, “kapan saya kena?”. karena setiap hari udah banyak yang “kena”. pasti suatu saat menimpa saya.

entah apa yang harus saya lakukan kalo menghadapi yang namanya kematian. karena, ga pernah ada kesaksian orang yang udah mati beneran (bukan mati suri) nyeritain pengalamannya. yang jelas, berbuat baik aja banyak-banyak.

kadang saya berfikir, yang mati kan saya, orang pasti ga akan peduli. bagaimana saya di “dunia sana”. yang bisa jalanin ya saya. bukan orang lain. orang lain bakalan “memperbaiki” hidupnya masing-masing, dan menjadikan kematian seseorang menjadi sebuah pelajaran. kadang saya berfikir, manusia benar-benar di-set untuk sendiri. meskipun bersama. yang meninggal dan ditinggal, mungkin akan merasa kerinduan yang sangat dalam. dan pasti berharap akan “berkumpul” lagi di “sana”. tapi, yang menentukan apakah kita akan berkumpul disana, diri kita masing-masing.

bagaimana dengan kematian saya? orang lain dengan kematiannya masing-masing, bagaimana dengan saya?

This is Life. if there’s a life, there’s a death…

kematian bukan bagian dari kehidupan, tapi kehidupan bagian dari kematian. karena kematian tempat utama segalanya ditentukan….

(oooh, i hate when myself thinking like this…) sekali lagi, entah ada yang liat tulisan jelek saya ini. ini cuma membuat saya lega… jangan diambil hati…Yang Penting Blog…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s